Metode Geofisika yang Paling Efektif untuk Identifikasi Rawa

Metode geofisika yang paling efektif untuk menentukan perlapisan bawah permukaan baik di topografi yang curam dan rawa bisa menggunakan metode GPR dengan frekuensi rendah, tidak semua tipe GPR bisa dipakai dalam medan tersebut karena frekuensi tinggi hanya bisa di sesuai untuk area perkotaan.

GPR yang digunakan adalah frekuensi 25MHz yang support terhadap medan lapangan seperti Mala 25Mhz RTA.

DSCF3466DSCF3470Picture1

Iklan

Metode GPR/Georadar Untuk Utilitas dengan IDS 600MHz

Pengukuran dilakukan di daerah Cirebon untuk mengidentifikasi keberadaan utilitas baik kabel ataupun pipa yang digunakan untuk inventaris kota dan provinsi. Metode ini GPR memang sangat cepat dan efektif jika untuk area yang luas dan volume yang banyak karena hanya meng cross area yang diduga adanya utilitas yang ditanam dan hasilnya pun bisa langsung diidentifikasi.

Penggunaan alat sangat beragam, mulai dari Merk GSSI, Mala Geoscience, IDS dan merk lainya yang semuanya bisa mengidentifikasi bawah permukaan dengan sama bagus.

Penggunaan alat GPR akan sangat bergantung pada kebutuhan dilapangan, biasanya untuk kebutuhan dangkal seperti untuk identifikasi utilitas, retakan dan investigasi jalur kabel dan pipa digunakan frekuensi yang tinggi yaitu antara 100-800MHz tetapi jika untuk identifikasi rawa, batubara, ketebalan pasir dan arkeologi yang membutuhkan target yang lebih dalam (10-60m) maka frekuensinya harus menggunakan yang rendah <100MHz.

Pengukuran GPR pada  cross area yang diduga adanya utilitas biasanya di lakukan di trotoar, memotong jalan lampu merah dan area pejalan kaki yang hanya membutuhkan spasi antara 2-10m sudah bisa dilakukan pengukuran.

Metode Geolistrik untuk Rembesan Bendungan di Jawa Tengah

Metode geolistrik banyak digunakan untuk mengidentifikasi adanya rembesan atau kebocoran pada tubuh bendungan. Secara teknis memungkinkan untuk mengidentifikasi adanya zona lemah atau zona dimana lebih banyak terdapat adanya perkumpulan air dan juga adanya zona ketidakkompakan pada batuan yang dianalisis sebagai adanya rongga. Survey adanya rembesan atau rongga pada Bendungan harusnya dilakukan secara berskala sehingga tahu zona lemah yang ada merupakan rongga, rembesan atau zona dimana sedimen terkumpul disitu karena sebagian area bendungan ada yang terletak didaerah batuan keras(vulaknik dan intrusi).

Jawa tengah sendiri banyak bendungan dan Mbung yang notabene merupakan tempat penampungan air dikala musim kemarau. Untuk mengetahui adanya zona lemah harus dilakukan dengan spasi yang rapat (2-5m) sehingga lebih terlihat spot-spotnya tetapi jangkauan kedalaman akan dangkal sehingga beberapa kasus dikombinasikan dengan metode GPR/Georadar.

Alat yang digunakan merk Sfield dengan spesifikasi yang sudah lumayan bagus untuk pengukuran resistivititas dengan adanya sistem yang sudah multichannel  48elektroda memungkinkan untuk melakukan pengukuran lebih cepat dan efektif.

IMG_20180630_112005IMG_20180630_073223

Rental Alat-alat Geofisika

Berikut alat-alat yang di rentalkan di Seisxplore Geosurvey:

  • Alat Ground Penetrating Radar/GPR/Georadar
    • Merk Mala RTA 25MHz
      • IMG-20160201-WA0002
    • Merk GSSI 200 dan 400 MHz
      • u3
    • Merk IDS 200 dan 600 MHz
      • DSCN1199
    • Merk Opera Duo 250 dan 650 MHz
      • OPERA DUO 2.jpg
  • Ground Magnetik
    • Geometric G-856
      • mag1-a
    • PMG-1
    • GSM-19T
      • 20171215_133609
  • Seismik
    • Seismik Refleksi dan Refraksi 24 dan 48 Channel dari Geometric
    • Downhole Seismic OYO kedalaman sampai 30m
    • Seismik SBP single dan Multibeam
  • Gravity
    • Scientrex
    • Lacoste & Rosberg
  • Geolistrik dan IP
    • Ares 1 dan 2 (48,72,96 channel) spasi 5, 10, 15 dan 20m.
    • Supersting R8 (28 dan 56 channel), spasi 10m dan 25m.
    • SField/Geores Multichannel (48 channel) spasi 5 dan 10m.
    • Naniura single dan semi multichannel (sounding dan Semi Multichannel 41 channel)

Ares II untuk Identifikasi Batuan Andesit

Ares II hampir sama dengan Ares I tetapi mengalami perubahan dalam menu dan pembacaan channel atau datum dalam sekali injeksi. Dalam Ares I sering kali pengukuran menunggu waktu yang cukup lama dengan estimasi hampir 2jam lebih tetapi dengan ares II bisa lebih cepat bahkan 5kali lebih cepat di bandingkan ares I. Ares II memungkinkan membaca channel dalam pengukuran sampai 10 channel, jika ares I cuma 1 channel. Dibandingkan dengan supersting yang hanya 8channel tetapi secara kualitas masih bagus supersting (pembacaan IPnya).

Kemudahan Ares yaitu hampir semua komponen pelengkap bisa di modifikasi dengan bahan-bahan komponen yang ada di Indonesia sedangakn Supersting sangat sulit dan bahkan tidak bisa di ganti dengan spare part dalam negri.

Selain kemudahan dalam spare part, kemudahan juga dalam modifikasi spasi elektroda dengan menggunakan kabel yang ada, misal spasi 5, 10, 15 dan seterusnya tergantung kebutuhan karena bawaan asli dari Ares sendiri hanya menyediakan spasi 5m.

Selain spasi, Ares bisa juga dimodifikasi dalam hal saluran channel atau switchbox seperti 24, 48,72, dan 96 channel sehingga penggunaan di lapangan sangat fleksible dan bisa di sesuaikan dengan kebutuhan yang ada tanpa harus membeli perangkat baru dari pabrikan.

20180118_131638.jpgIMG-20180121-WA0024IMG-20180121-WA0026

 

Hubungi Kami:

Tlp: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Pemodelan Bawah Permukaan data GPR untuk Rawa


Batubara?Biasanya orang selalu menghubung-hubungkan dengan pengeboran dan site visit atau survey tinjau untuk mengetahui keberadaan dan kemenerusan benda ini, tetapi sangat sedikit yang memanfaatkan metode tidak langsung yang dalam proses surveynya bisa menghemat waktu, biaya dan lainya yang tentu saja si Bos besar akan senang jika kemudahan dalam eksplorasi batubara dapat lebih mudah, murah dan efisien.

Beberapa postingan sebelumnya sudah menjelaskan metode yang tidak langsung ini (GPR) untuk mengidentifikasi batubara, bukan metode lain tidak bagus tapi dilihat dari efisiensi dan kemampuan alat dan medan yang tidak mudah yang sebut saja rawa yang bergambut dan berilalang tinggi. Dalam kasus lain yang mempunya lokasi yang relatif mudah orang-orang geologi (biasanya yang menjadi pengambil keputusan dalam survey lapangan di suatu perusahaan) mengenalkan metode Geolistrik yang notabene mereka kenal (sebagian orang tambang juga) untuk mengidentifikasi batubara. Bukan tanpa alasan tetapi mereka lebih banyak mengenal geolistrik dari pada metode lain karena dari sejak kuliah mereka sudah mengenal dan melakukan praktikum di kampusnya dengan metode geolistrik.

Metode GPR dengan berbagai merk dan tipe frekuensi yang dipakai membuat orang sulit untuk memilih karena setiap tujuan lapangan harus tahu kebutuhanya buat apa, kedalamanya berapa, objek yang di cari apa dan lainya, dan kebanyakan orang terutama geologi dan geofisika akan menempatkan metode ini untuk kebutuhan sipil atau objek-objek yang ada di sekitar beton, pindasi, jalan rawa dan lainya.

Memang betul metode GPR banyak digunakan untuk identifikasi retakan beton, amblasan, utulitas bawah permukaan berupa kabel, pipa dan lainya tetapi GPR juga mempunya frekuensi rendah yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi area yang dalam yang berupa lapisan, yang sering digunakan adalah frekuensi 30MHz dengan bentangan kabel seperti ular dan ditarik sehingga gelombang yang dikeluarkan dari transmitter akan ditangkap oleh receiver dan menampilkan respon-respon trace (amplitudo) yang jika digabungkan akan membentuk suatu penampang yang isinya berupa lapisan-lapisan bawah permukaan.

kedalaman rawa section

Hasil GPR untuk kedalaman rawa

kedalaman rawa tanpa koreksi

Pemodelan Rawa dari Data GPR

kedalaman rawa koreksi

Pemodelan Rawa dikoreksi Topo