Eksplorasi di Daerah Rawa dan Ber air

Kontak Kami:

Phone: +62-82114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Ares II untuk Identifikasi Batuan Andesit

Ares II hampir sama dengan Ares I tetapi mengalami perubahan dalam menu dan pembacaan channel atau datum dalam sekali injeksi. Dalam Ares I sering kali pengukuran menunggu waktu yang cukup lama dengan estimasi hampir 2jam lebih tetapi dengan ares II bisa lebih cepat bahkan 5kali lebih cepat di bandingkan ares I. Ares II memungkinkan membaca channel dalam pengukuran sampai 10 channel, jika ares I cuma 1 channel. Dibandingkan dengan supersting yang hanya 8channel tetapi secara kualitas masih bagus supersting (pembacaan IPnya).

Kemudahan Ares yaitu hampir semua komponen pelengkap bisa di modifikasi dengan bahan-bahan komponen yang ada di Indonesia sedangakn Supersting sangat sulit dan bahkan tidak bisa di ganti dengan spare part dalam negri.

Selain kemudahan dalam spare part, kemudahan juga dalam modifikasi spasi elektroda dengan menggunakan kabel yang ada, misal spasi 5, 10, 15 dan seterusnya tergantung kebutuhan karena bawaan asli dari Ares sendiri hanya menyediakan spasi 5m.

Selain spasi, Ares bisa juga dimodifikasi dalam hal saluran channel atau switchbox seperti 24, 48,72, dan 96 channel sehingga penggunaan di lapangan sangat fleksible dan bisa di sesuaikan dengan kebutuhan yang ada tanpa harus membeli perangkat baru dari pabrikan.

20180118_131638.jpg
IMG-20180121-WA0024
IMG-20180121-WA0026

Hubungi Kami:

Tlp: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Survey Geolistrik untuk Galian C atau Andesit

Survey geolistrik sudah sangat dikenal oleh sebagian banyak orang yang bergelut di bidang pertambangan, khususnya galian C, bisa galian pasir, andesit, gamping dan lainya. Dimensi yang cukup besar dan tebal memudahkan dalam tahap interpretasi dan pengolahan data sekalipun menggunakan alat lokal seperti naniura, S-field(Geores) ataupun menggunakan alat luar seperti ARES dan Supersting.

Banyaknya orang geologi atau tambang yang menggunakan jasa geolistrik karena sangat membantu dalam hal perhitungan volume dan juga sebagai syarat dalam pengajuan penambangan galian C tersebut.

selain kebutuhan diatas, geolistrik membantu juga mengestimasi zonasi lapisan lapuk, galian C yang lapuk dan yang segar nya sehingga estimasi penambangan lebih akurat di tambah dengan data sampel Bor.

Data geolistrik dengan pengolahan data yang standar masih bisa mengestimasi zona dan volume yang mendekati keadaan lapangan karena dimensinya yang besar, tetapi untuk identifikasi struktur dan zona rekahan memang butuh konfigurasi khusus dan juga adanya pemilihan alat yang pas.

Seisxplore Geosurvey menyajikan jasa pengukuran baik menggunakan alat lokal seperti naniura, geores, dan merk lain juga menggunakan alat luar seperti Ares, Supersting dan merk lainya. selain menyewakan alat dan personil, juga menyajikan berbagai pengolahan data dan pemodelan sampai dengan volume target yang diinginkan dengan menggunakan software berlisensi(Resmi).

Capture line 5-2

pemodelan geofisika dari data resistivitas diperlukan untuk memudahkan, menganalogikan kondisi bawah permukaan secara geologi sehingga dibutuhkan zonasi dan klasifikasi zona nilai resistivitas pada penampang. zonasi nilai bisa dibedakan menurut label nilai yang korelasinya dengan batuan ataupun secara geologi yaitu zona-zona struktur untuk menentukan adanya sebaran dan kemenrusan dari tiap batuan dibawah permukaan.

Capture line 5

pemodelan bisa dilakukan di penampang yang merupakan cakupan 2dimensi, sedangkan pemodelan juga bisa diterapkan di cakupan 3dimensi yang mana nilai dan zonasinya berdasarkan nilai resistivitasnya.

Capture1Capture2

Dalam pemodelan 3D data resistivitas untuk identifikasi batuan andesit atau Galian C mempunyai range nilai yang biasanya diatas 100 ohm.m, tetapi kadang dengan kondisi dan pengaruh struktur maka nilai resistivitas bisa berbeda. range nilai itu bisa di kategorikan sebagai zona nilai yang sama dan dapat dimodelkan dalam warna yang mempunyai nilai tertentu. satu nilai akan membentuk model atau biasa dinamakan isochron.

Metode GPR/Georadar untuk Identifikasi Batubara

IMG20180429152313.jpg

Metode GPR sangat direkomendasikan untuk survey batubara di area rawa atau area yang mempunyai kondisi seperti kalimantan. Berbeda dengan metode lain seperti seismik, geolistrik dan lainya yang merupakan metode tidak langsung secara vertikal, GPR mempunyai resolusi yang tinggi. Batas perlapisan dan kemiringan yang di punyai batubara akan sangat mudah diidentifikasi. Metode Seismik kadang tidak bisa mencover area dangkal yang notabene merupakan area lapuk atau rawa dan membutuhkan biaya dan persiapan yang sangat mahal, begitupula geoslitrik tidak mempunya resolusi vertikal secara ketebalan untuk mengidentifikasi adanya kemenerusan yang jelas dan kemiringan.

final.JPG

coal.png

line 21 coal.png

Contoh di atas merupakan survey GPR di area rawa dengan gundulasi topografi yang relatif datar dan hanya bisa dilakukan oleh GPR karena areanya dominan rawa dan berair dan bergambut. Ketebalan dan kedalaman rawa dan gambutnya sendiri sangat jelas terlihat, bahkan kemiringan dan ketebalan batubaranya sendiri bisa terlihat dengan jelas yang sangat kontras dengan lapisan-lapisan sekitarnya.

 

Menghitung Volume Gamping dengan Data GPR/Georadar

Menghitung volume suatu batuan atau objek yang ada di bawah tanah seperti gamping, mineral(emas, biji besi dan lainya), pasir dan sumber daya lainya bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan metode GPR/Georadar yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengidentifikasi batuan gamping diĀ  daearh Samit. Peruntukanya untuk pondasi jalan dan pengerasan lainya.

Pemilihan metode GPR sendiri dilakukan karena batuan gamping yang ada merupakan batuan gamping skunder yang relatif berbentuk lapisan atau mempunya ukuran yang besar baik yang lateral maupun vertikal. Pemilihan metode ini baik untuk sumber daya yang secara geologi diendapkan secara berlapis atau lateral tidak spot dan boulder serperti halnya sumber daya biji besi dan emas, sedangkan sumber daya yang relatif membentuk lapisan seperti gamping, batubara, pasir, biji besi skunder(pasir besi) dan lainya sebaiknya menggunakan metode yang mempunya resoluasi secara vertikal baik. Diantara metode yang secara vertikal baik(thickness dan lateralnya) adalah GPR. seismik. Sedangkan untuk sumber daya yang berupa float, boulder dan spot-spot sebaiknya menggunakan metode yang memanfaatkan sumber arus listrik dan sumber alam lain seperti resistivity-IP, CSAMT,MT dan lainya.

Perhitungan volume gamping menggunakan metode GPR bisa dimulai dengan menggrid lintasan yang diduga mempunyai potensi di daerah tersebut sehingga data yang grid tadi akan mengkorelasi tiap lapisan yang ada di data dan bisa diinterpolasi antar lapisanya sehingga membentuk satu kesatuan bodi atau sumber daya.

Setelah melakukan grid lintasan, proses selanjutnya adalah memilih parameter yang pas pada saat melakukan pengambilan data sehingga data yang diambil optimal dan maksimal. pemilihan parameter pada GPR sendiri butuh beberapa pengalaman dan pengetahuan sehingga tidak mudah untuk melakukanya.

Selain pemilihan parameter, pengolahan data juga sering menjadi kendala, yaitu ketika merujuk pada tujuan akhirnya sumber daya terkira maka butuh suatu flow pengolahan data yang memungkinkan hasil dari data GPR tersebut akan membentuk suatu objek dalam satu kesatuan, sedangkan data yang ada berupa lintasan yang antar lintasanya kosong atau tidak ada data. Pengolahan data GPR bisa menggunakan software-software yang biasa digunakan seperti reflex, vista, reflex quick dan lainya yang akan menampilkan penampang 2D dan beberapa informasi lapisan dibawahnya.

Dari hasil pengolahan data tersebut maka akan diinterpolasi menggunakan software lanjutan yang akan membentuk dan membangun suatu kesatuan tiap lapisan yang ada sehingga terbentuk bodi dan bisa di hitung volumenya. Sperti gambar di bawah, volume batuan gamping menampilkan data dari tiap lintasan, topografi tiap lintasan dan area sekitar dan juga depth atau kedalaman dari batuan gamping itu sendiri.

3

 

statisdata1

model 1model 2

 

Tlp: 082114266358

Email:roni12404027@gmail.com

Eksplorasi Batuan Gamping dengan Metode GPR/Georadar dengan Mala RTA 25MHz

Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan sebelum dan sesudahnya, metode GPR belum banyak digunakan untuk eksplorasi sumber daya yang mempunya kedalaman lebih dari 50m, kebanyakan banyak digunakan untuk kebutuhan shallow atau dangkal sekitar 1-10m dengan alat yang sering digunakan mempunyai frekuensi 100-1000MHz. Ada beberapa alat yang dalam kemampuan penetrasi sudah lebih dari 50m sehingga ketika ada sumber daya yang secara geologi berupa sedimentasi maka lebih baik digunakan metode GPR daripada metode Geolistrik atau lainya(Baca: Menghitung volume batuan gamping pada postingan sesudahnya).

Alat yang biasa digunakan untuk penetrasi lebih dari 10m sebaiknya digunakan frekuensi rendah yang bisa menjangkau kedalaman tertentu seperti gamping, batu bara, pasir dan lainya sehingga dimensi lateral dan vertikal dapat tercapai. GPR MALA RTA 25MHz sering digunakan dalam eksplorasi batuan yang berupa sedimen tetapi belum banyak yang tahu manfaat dan pengolahan datanya sehingga orang geofisika dan geologi pada khususnya dan orang yang punya area prospek pada umumnya tidak tahu secara detail fungsi dan cara kerjanya.

Metode GPR sendiri yang sudah sering di bahas pada postingan sebelum- seblumnya yaitu memanfaatkan gelombang radio atau lebih tepatnya gelombang elektromagnetik dengan frekuensi tinggi yang bisa mengidentifikasi ketidak menerusan suatu lapisan baik lateral maupun vertikal. secara vertikal resolusi GPR frekuensi 25MHz mempunya kemampuan rata untuk mengidentifikasi ketebalan suatu lapisan berkisar 0.5m pada umumnya tetapi tergantung stratigrafi yang terkena gelombang di bawahnya, ketika beda kekompakan atau konstanta dielektriknya tinggi maka target segitu masih bisa dicapai tetapi kalau lapisanya lebih lapuk maka akan lebih tinggi lebih dari 0.5m.

data3

line 2 plasma tualan.jpg

model 3.PNG

Kontak Kami:

Tlp: 082114266358

Email:roni12404027@gmail.com

Pemodelan Batuan Andesit dari Data Resis-IP

Pemodelan 3D data geolistrik berdasarkan data section 2-D yang didapatkan dari pengukurand di lapangan. Hasil dari pemodelan 3D akan bergantung pada hasil inversi 2D dan juga kerapatan lintasan sehingga estimasi sebaran berupa interpolasi data tidak terlalu jauh sehingga pendekatanya lebih baik.

Pemodalan 3D memudahkan untuk memetakan sebaran nilai resisitivitas batuan secara menyeluruh sehingga bisa dilihat secara vertikal dan horizontalnya. Secara 3D pula kita akan mudah melihat sebaran tiap batuan baik tanah, batuan lapuk, batuan fresh dan juga lainya selain itu bisa di tentukan volume tiap batuanya yang tentunya berdasarkan pendekatan nilai resistivitas batuanya.

Tlp: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com