Investigasi Cavity atau Rongga dan Struktur pada Batuan Gamping dengan Metode GPR/Georadar

Metode geofisika yang digunakan untuk identifikasi rongga, struktur, atau yang lainya yang berkaitan dengan kondisi geologi batuan gamping yaitu geolistrik, georadar, seismik dan lainya tetapi kondisi di lapangan menentukan metode yang pas dan efektif untuk target yang akan di capai. Kondisi batuan gamping biasanya kering, mempunyai lapisan soil yang sangat tipis apalagi di dekat laut, sehingga ketika menggunakan metode geolistrik atau seismik akan menghadapi kendala di penancapan elektroda atau geophoneya sehingga perekaman dan injeksi arus akan tidak maksimal. Dengan kondisi seperti itu maka identifikasi struktur, rongga atau cavity di batuan gamping akan sangat relevan dan efektif menggunakan metode Georadar dengan memanfaatkan lintasan yang sudah dibersihkan sehingga alat melewati lintasan tersebut dan data bawah permukaan akan didapatkan.

Kontak Kami:

Phone: +62-82114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Menghitung Volume Gamping dengan Data GPR/Georadar

Menghitung volume suatu batuan atau objek yang ada di bawah tanah seperti gamping, mineral(emas, biji besi dan lainya), pasir dan sumber daya lainya bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan metode GPR/Georadar yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengidentifikasi batuan gamping diĀ  daearh Samit. Peruntukanya untuk pondasi jalan dan pengerasan lainya.

Pemilihan metode GPR sendiri dilakukan karena batuan gamping yang ada merupakan batuan gamping skunder yang relatif berbentuk lapisan atau mempunya ukuran yang besar baik yang lateral maupun vertikal. Pemilihan metode ini baik untuk sumber daya yang secara geologi diendapkan secara berlapis atau lateral tidak spot dan boulder serperti halnya sumber daya biji besi dan emas, sedangkan sumber daya yang relatif membentuk lapisan seperti gamping, batubara, pasir, biji besi skunder(pasir besi) dan lainya sebaiknya menggunakan metode yang mempunya resoluasi secara vertikal baik. Diantara metode yang secara vertikal baik(thickness dan lateralnya) adalah GPR. seismik. Sedangkan untuk sumber daya yang berupa float, boulder dan spot-spot sebaiknya menggunakan metode yang memanfaatkan sumber arus listrik dan sumber alam lain seperti resistivity-IP, CSAMT,MT dan lainya.

Perhitungan volume gamping menggunakan metode GPR bisa dimulai dengan menggrid lintasan yang diduga mempunyai potensi di daerah tersebut sehingga data yang grid tadi akan mengkorelasi tiap lapisan yang ada di data dan bisa diinterpolasi antar lapisanya sehingga membentuk satu kesatuan bodi atau sumber daya.

Setelah melakukan grid lintasan, proses selanjutnya adalah memilih parameter yang pas pada saat melakukan pengambilan data sehingga data yang diambil optimal dan maksimal. pemilihan parameter pada GPR sendiri butuh beberapa pengalaman dan pengetahuan sehingga tidak mudah untuk melakukanya.

Selain pemilihan parameter, pengolahan data juga sering menjadi kendala, yaitu ketika merujuk pada tujuan akhirnya sumber daya terkira maka butuh suatu flow pengolahan data yang memungkinkan hasil dari data GPR tersebut akan membentuk suatu objek dalam satu kesatuan, sedangkan data yang ada berupa lintasan yang antar lintasanya kosong atau tidak ada data. Pengolahan data GPR bisa menggunakan software-software yang biasa digunakan seperti reflex, vista, reflex quick dan lainya yang akan menampilkan penampang 2D dan beberapa informasi lapisan dibawahnya.

Dari hasil pengolahan data tersebut maka akan diinterpolasi menggunakan software lanjutan yang akan membentuk dan membangun suatu kesatuan tiap lapisan yang ada sehingga terbentuk bodi dan bisa di hitung volumenya. Sperti gambar di bawah, volume batuan gamping menampilkan data dari tiap lintasan, topografi tiap lintasan dan area sekitar dan juga depth atau kedalaman dari batuan gamping itu sendiri.

3

 

statisdata1

model 1model 2

 

Tlp: 082114266358

Email:roni12404027@gmail.com

Eksplorasi Batuan Gamping dengan Metode GPR/Georadar dengan Mala RTA 25MHz

Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan sebelum dan sesudahnya, metode GPR belum banyak digunakan untuk eksplorasi sumber daya yang mempunya kedalaman lebih dari 50m, kebanyakan banyak digunakan untuk kebutuhan shallow atau dangkal sekitar 1-10m dengan alat yang sering digunakan mempunyai frekuensi 100-1000MHz. Ada beberapa alat yang dalam kemampuan penetrasi sudah lebih dari 50m sehingga ketika ada sumber daya yang secara geologi berupa sedimentasi maka lebih baik digunakan metode GPR daripada metode Geolistrik atau lainya(Baca: Menghitung volume batuan gamping pada postingan sesudahnya).

Alat yang biasa digunakan untuk penetrasi lebih dari 10m sebaiknya digunakan frekuensi rendah yang bisa menjangkau kedalaman tertentu seperti gamping, batu bara, pasir dan lainya sehingga dimensi lateral dan vertikal dapat tercapai. GPR MALA RTA 25MHz sering digunakan dalam eksplorasi batuan yang berupa sedimen tetapi belum banyak yang tahu manfaat dan pengolahan datanya sehingga orang geofisika dan geologi pada khususnya dan orang yang punya area prospek pada umumnya tidak tahu secara detail fungsi dan cara kerjanya.

Metode GPR sendiri yang sudah sering di bahas pada postingan sebelum- seblumnya yaitu memanfaatkan gelombang radio atau lebih tepatnya gelombang elektromagnetik dengan frekuensi tinggi yang bisa mengidentifikasi ketidak menerusan suatu lapisan baik lateral maupun vertikal. secara vertikal resolusi GPR frekuensi 25MHz mempunya kemampuan rata untuk mengidentifikasi ketebalan suatu lapisan berkisar 0.5m pada umumnya tetapi tergantung stratigrafi yang terkena gelombang di bawahnya, ketika beda kekompakan atau konstanta dielektriknya tinggi maka target segitu masih bisa dicapai tetapi kalau lapisanya lebih lapuk maka akan lebih tinggi lebih dari 0.5m.

data3

line 2 plasma tualan.jpg

model 3.PNG

Kontak Kami:

Tlp: 082114266358

Email:roni12404027@gmail.com