Penyewaan alat-alat Geofisika

Selain menyediakan pelayanan eksplorasi geofisika(pengukuran, pengolahan data dan pelaporan), seisxplore Geosurvey juga menyediakan penyewaan alat-alat survey geofisika dan pemetaan geodesi. perlatan yang digunakan sudah melalui uji kalibrasi dan pengecekan berkala dan memenuhi standar. Berikut alat-alat yang bisa disewakan:

  1. Supersting R8 elektroda 28 dan 56 dengan spasi per elektroda antara 1m,5m,10m,35m
  2. Ares I dan Ares II dengan elektroda 48 dengan spasi elektroda antara 5m,10m,15m,20m,30m.
  3. Naniura single channel berbagai channel dengan spasi beragam(by request).
  4. Magnetometer Geometric G-856 dari Geometric
  5. Magnetometer GSM-19T dari GEM System
  6. Magnetometer PMG-1 dan 2
  7. GPS RTK Trimble R8 dan R10
  8. Total Station merk apapun dengan model apapun
  9. Downhole Seismic PASI
  10. Seismic Refraksi dan Refleksi 24 dan 48 channel frekuensi 10-28Hz dari Geometric
  11. Ground Penetrating Radar dari Mala Geoscience (GPR/Georadar) frekuensi 25MHz(RTA), 200Mhz, 400MHz, 800Mhz.
  12. Ground Penetrating Radar dari IDS Italia frekuensi 40MHz, 200MHz, 400MHz, 600MHz
  13. Ground Penetrating Radar GSSI frekuensi 40MHz, 80MHz, 250MHz, 400MHz, 800MHz.

 

 

Kontak:

Tlp: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Iklan

Survey Topografi untuk Perhitungan Volume Stockpile

7 stakout bor

Dalam Stockpile Management Ada 3 Point yang harus diperhatikan :

  1. Storage Management
  2. Quality & Quanitity Management
  3. Blending Management

Storage Management

Storage Management atau pengaturan penyimpanan batubara di stockpile sangat penting dalam stockpile management. Dalam mengatur penyimpanan batubara di stockpile, hal hal yang perlu diperhatikan adalah Desain stockpile dan Sistem penumpukan.

Desain Stockpile

Desain dari suatu stockpile ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :

  1. Kapasitas penyimpanan batubara
  2. Banyaknya jenis product yang akan Dipisahkan di stockpile
  3. Fasilitas dan sistem penumpukan dan Pemuatan

Kapasitas penyimpanan Batubara

  • Kapasitas penyimpanan batubara di stockpile menentukan desain suatu stockpile. Stockpile yang berkapasitas kecil dengan batubara dengan kapasitas besar mungkin berbeda khususnya dalam penyiapan lahan dan preparasi lahan tersebut.
  • Pada stockpile dengan kapasitas yang besar, dasar stockpile harus benar-benar kuat dan kokoh menahan beban yang besar. Kalau tidak, base stockpile tersebut akan turun di bagian tengah, dan juga akan ikut menurunkan batubara yang ada di atasnya. Dalam kondisi seperti itu akan terjadi kehilangan batubara di stockpile.

Jumlah Product Yang dipisahkan

  • Banyaknya jumlah product yang akan dipisahkan menentukan luasan stockpile yang diperlukan.
  • Semakin banyak jumlah product yang dipisahkan semakin besar areal yang diperlukan.

Fasilitas Penumpukan dan pemuatan

  • Alat yang digunakan dalam sistem penumpukan dan pemuatan batubara di stockpile juga mempengaruhi desain atau areal stockpile yang digunakan.
  • Penggunaan stacker-reclaimer dalam sistem penumpukan dan pemuatan, membuat desain dan sistem penumpukan memanjang.
  • Stacker-reclaimer juga mempermudah dalam pemisahan batubara yang memiliki kualitas yang berbeda dan sekaligus juga mempermudah dalam blending batubar-batubara tersebut.

Desain Stockpile

  1. Di sekeliling stockpile dipasang instalasi spraying.
  2. Di sekeliling stockpile dibuatkan windshield atau penangkal angin.
  3. Stockpile dibuat memanjang searah dengan arah angin dominan (Prevailing Wind).

SISTEM PENUMPUKAN

Dalam penumpukan Batubara harus memenuhi Syarat sebagai berikut :

  • Sekeliling tumpukan batubara harus dapat diakses oleh unit maintenance seperti Wheel Loader atau Excavator.
  • Penumpukan harus memanjang searah dengan prevailing wind (arah angin dominan)
  • Setiap penumpukan harus dipastikan ditrimming agar tidak terdapat puncak-puncak kecil diatas tumpukan batubara
  • Slope permukaan stockpile yang menghadap ke arah angin harus dilandaikan sudutnya, bila perlu dipadatkan.

Quality & Quantity Management

Quality dan Quantity Management adalah proses yang paling penting dalam suatu stockpile management. Karena Quality dan quantity management bersifat terus menerus dan berjalan seiring dengan jalannya perusahaan. Quality & Quantity Management melibatkan hampir semua bagian di suatu perusahaan tambang batubara. Sedangkan di end user biasanya Quality dan Quantity management dipegang oleh Departement Fuel Handling.

QQM di Perusahaan Tambang Batubara

QQM di perusahaan tambang batubara melibatkan sebagian besar departement yaitu mulai dari Geology, Mine Planning, Tambang, Coal Processing, Quality Control, dan Shipping. Masing-masing berperan dan bertanggung jawab di bagian masing-masing dalam menciptakan sistem kontrol qualitas dan kuantitas yang baik.

Geology

Geology adalah bagian yang pertama-tama memberikan data mengenai jumlah cadangan, dan kualitas batubara yang berpotensi untuk diexploitasi. Geology Juga bertugas secara terus menerus mencari sumber cadangan batubara dengan melakukan explorasi. Data yang diberikan oleh Geology merupakan titik acuan awal mengenai jumlah cadangan batubara dan kualitas batubara.

Mine Planning

Mine Planning bertugas meneruskan pengolahan data dari geology, dengan membuat rencana tambang yang didalamnya dilengkapi dengan data mineable reserve, mine design, perhitungan alat, scheduling, dan lain-lain. Mine Planning juga bertugas melakukan kajian dan evaluasai setiap perkembangan kualitas dari mulai data geology, data reserve, data produksi, sampai data dari pengapalan.

Mining / Tambang

Bertugas melakukan penambangan yang sudah didesain oleh mine planning. Mining harus menjaga agar dalam eksekusi penambangan betul-betul mengikuti mine plan yang sudah ditetapkan, baik mengenai batasan-batasan penambangan maupun dalam scheduling penambangan.

Coal processing / Handling

Coal processing atau bagian handling, bertugas melakukan proses dari mulai penumpukan batubara di stockpile, Crushing, maintenance stockpile, sampai dengan pemuatan batubara. Coal processing biasanya erat sekali hubungan kerjanya dengan Quality Control atau Quality Assurance. Karena pada pelaksanaannya Quality Control dan Coal processing bekerja bersama-sama di stockpile baik dalam hal sistem penumpukan batubara di stockpile, pengaturan pemuatan batubara, sampai blending batubara.

Quality Control

Beberapa tugas dari Quality Control

  • Tugas dari Quality Control adalah memonitor kualitas mulai dari data forecast tambang sampai kualitas Pengapalan.
  • Quality Control melakukan kontrol terhadap batubara produksi dengan melakukan sampling pada saat batubara telah di crushing.
  • Quality Control juga bertugas membuat rencana setiap pemuatan batubara dan mengatur agar kualitas batubara yang dikirim sesuai dengan spesifikasi buyer.
  • Quality Control membuat evaluasi perkembangan kualitas mulai dari tambang sampai pengapalan.
  • Quality Control juga bertugas mengevaluasi atau mengontrol process operasional yang dapat mempengaruhi kualitas batubara, sehingga dapat menyimpang dari planning.
  • Proses yang mungkin terjadi adalah di tambang, stockpile, dan barging.

Proses Operasional Yang dapat mempengaruhi Kualitas batubara

Penambangan :

  • Pada saat penambangan, sering terjadi bahwa kondisi di lapangan berbeda dengan kondisi seperti yang digariskan dalam mine plan. Misalnya adanya sisipan atau cleat pada seam batubara yang sedang di tambang. Pengotor ini sulit dipisahkan dengan selective mining. Akibatnya kandungan abu batubara tersebut akan lebih tinggi dari data mine plan atau data geology.
  • Pada penambangan dip seam atau seam yang miring, sering terjadi kontaminasi seam batubara yang sedang ditambang oleh bagian floor yang longsor atau jatuh ke atas seam batubara tersebut.

Stockpile

  1. Pada saat penumpukan batubara di stockpile, terjadi pencampuran antar batubara yang memiliki kualitas yang berbeda.
  2. Pada saat pengambilan batubara dari stockpile, sering terkontaminasi dengan bedding (fine coal), atau bahkan material bedding selain batubara seperti batu dan kerikil.
  3. Batubara yang sudah lama di stockpile mengalami penurunan kualitas.

QQM di End User

Proses QQm di stockpile end user, tidak spanjang di Perusahaan tambang. Proses QQM yang dilkukan di stockpile end user, biasanya lebih di fokuskan pada bagaimana memisahkan batubara dari berbagai pemasok yang kualitasnya juga berbeda, dan bagaimana membuat suatu feeding coal yang sesuai dengan desain peralatan utilisasi tersebut. Proses yang paling menonjol di stockpile end user adalah proses blending batubara untuk mensuplai batubara kedalam peralatan utilisasi dengan kualitas yang sesuai.

BLENDING MANAGEMENT

Dalam suatu blending management, hal yang paling diutamakan adalah:

  • Pencampuran kualitas sehingga menghasilkan kualitas batubara hasil campuran sesuai dengan yang ditargetkan.
  • Cara Blending atau pencampuran itu sendiri yang harus baik.

Pencampuran Kualitas

Sebelum Blending dilakukan, yang perlu diperhatikan adalah target kualitas yang harus dicapai dari blending tersebut. Hanya satu target parameter yang dapat dicapai dengan tepat dalam suatu blending. Parameter lainnya mengikuti sesuai dengan proporsi blendingnya. Diantara parameter kualitas batubara, ada yang bersifat addictive (dapat dikalkulasi secara kuantitatif pada saat blending). Dan ada pula paramter yang bersifat tidak addictive atau tidak dapat dihitung secara kuantitatif berdasarkan proporsi blendingnya.

Kalkulasi Kualitas Blending

Qb = (Q1 x W1)+(Q2 x W2) Dibagi (W1+ W2)

  1. Qb = Kualitas hasil Blending
  2. Q1 = Kualitas batubara 1
  3. Q2 = Kualitas batubara 2
  4. W1 = Berat batubara 1
  5. W2 = Berat batubara 2

Sistem Blending

Dalam suatu blending sistem pencampuran atau blending merupakan yang terpenting. Blending harus dilakukan dengan proporsi unit pencampuran yang terkecil untuk mendapatkan batubara hasil blending yang homogen. Berikut ini adalah beberapa sistem pencampuran dengan tingkat homogenitas yang meningkat. (Semakin homogen)

  • Blending Barge By Barge
  • Blending DT By DT
  • Blending Bucket Loader By Bucket loader
  • Blending conveyor.

Hasil suatu blending yang homogen sangat diperlukan terutama bagi end user. Ketidak homogenan dalam suatu blending akibatnya akan terasa langsung oleh end user pada saat batubara tersebut digunakan. Kesempurnaan dari suatu blending adalah ketepatan dalam pencapaian target kualitas hasil blending dan homogenitas hasil pencampuran.

Survey Topografi untuk Stake Out Bor

4 2

Panduan Survey dan Pemetaan Areal Tambang – Survey dan pemetaan topografi bertujuan untuk menggambarkan permukaan bumi, yang digambarkan dalam bentuk peta dengan menggunakan skala tertentu. Detail yang digambar berupa detail alam maupun buatan manusia dalam posisi horisontal maupun vertikal. Peta topografi biasanya digunakan sebagai peta dasar untuk membuat peta tematik, seperti peta rencana jalan, peta geologi, peta hidrologi, kemiringan dan lain-lain.

Secara umum tujuan dari kegiatan survey dan pemetaan topografi dengan skala 1 : 2000 atau skala lainnya (tergantung kebutuhan) untuk keperluan eksplorasi batubara dan nikel adalah untuk menyediakan informasi topografi yang berkaitan dengan kepentingan eksplorasi seakurat mungkin baik itu detil topografi maupun detil geologi. Adapun informasi yang disajikan meliputi out crop / singkapan batubara, bentuk detil alam (jalan, rawa, bukit, sungai, dsb), dan penggunaan lahan seperti ladang, kebun, semak dan sebagainya. Informasi tersebut diperlukan dalam perencanaan pekerjaan penambangan pada areal survey tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa survey dan pemetaan pada areal tambang (Eksplorasi dan Eksploitasi) pada dasarnya sama dengan survey dan pemetaan yang biasa kita temui. Hal yang membedakan terletak pada pengukuran dan pemetaan daerah prospek tambang yang biasa di sebut dengan blok tambang yang menggunakan sistem grid atau line yang teratur.

Pembuatan blok Tambang

Dalam kegiatan survei dan pemetaan eksplorasi area tambang biasanya akan kita mengenal suatu daerah yang mempunyai prospek untuk di lakukan kegiatan eksplorasi (pencarian dan penelitian) secara lebih mendalam yang biasa di sebut dengan Blok Tambang. Blok tambang ini secara awal di buat dan di rencanakan oleh Tim Geologi yang selanjutnya akan dipetakan di lapangan secara langsung oleh Tim Geodesi (Survei dan Pemetaan).

 Urutan langkah-langkah dari pembuatan Blok Tambang sebagai berikut:

  1. Pembuatan Poligon Utama (Main Polygon). Poligon Utama (Main Polygon) ini dibuat pertama kali setelah pembuatan titik kontrol Bench Mark (BM) selesai dilakukan. Poligon ini menghubungkan antar titik BM sehingga mempunyai ketelitian pengukuran yang paling tinggi karena digunakan sebagai patokan pengikatan poligon-poligon lainnya.
  2. Poligon Baseline / Blok Tambang (Baseline Polygon).  Poligon inimerupakan poligon yang membatasi area prospek tambang atau Blok Tambang yang diikatkan secara sempurna pada Poligon Utama. Selanjutnya poligon ini akan digunakan sebagai dasar ikatan poligon selanjutnya yang mempunyai tingkatan lebih rendah
  3. Poligon Cabang (Branch Polygon). Poligon cabang ini harus terikat secara sempurna pada poligon Baseline sehingga mempunyai ketelitian dan tingkatan yang lebih rendah dibanding dengan poligon Baseline. Walaupun demikian ketelitian poligon harus tetap memenuhi ketelitian minimum pengukuran yang ditetapkan karena sangat berguna untuk menentukan letak titik bor secara tepat di posisinya.
  4. Penentuan Letak Titik Bor (Drill Hole) Pengukuran untuk menentukan letak titik bor ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan Tim Geodesi dalam kegiatan Eksplorasi khususnya dalam penentuan Proposed Drill Hole. Pengukuran letak Titik Bor ini dilakukan dengan jalan mengikatkan jalur pengukuran pada Poligon Cabang. Metode pengukuran yang biasa dilakukan dalam menentukan letak Drill Hole ini adalah Metode Stake Out. Jadi koordinat rencana Drill Hole yang telah ada di peta kita cari dan tentukan di lapangan (Stake Out). Pengukuran dengan Metode Stake Out ini harus diikatkan secara sempurna pada Poligon Cabang untuk mendekati titik bor tujuan yang kita rencanakan secara optimal.

Pengukuran Proposed Drill Hole dan End of Drill

Tugas Total Station Survey yang biasa dilakukan setelah pembuatan baseline blok tambang adalah penentuan titik bor (Proposed Drill Hole). Penentuan titik ini dimulai dari titik bor per 100 meter, dilanjutkan per 50 meter dan terakhir jarak per 25 meter. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menentukan titik rencana sampai dengan jarak 12,5 meter. Pengukuran titik rencana bor (Proposed Drill Hole) ini lebih efektif dilakukan dengan metode Stake Out. Selanjutnya apabila bor selesai dilakukan, tugas selanjutnya adalah pengukuran titik bor yang telah selesai (End Of Drill).

Survey Topografi untuk Pemetaan Permukaan

3 5 6

Standar Operasional Survey Pengukuran Topografi

Persiapan Survey Topografi

  1. Persiapan administrasi

Persiapan administrasi antara lain berupa :

  1. surat tugas personil pelaksana, surat izin survey
  2. hal-hal lainnya yang diperlukan
  1. Persiapan peralatan survey

Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai harus ditentukan terlebih dahulu peralatan yang akan digunakan. Peralatan yang digunakan harus memenuhi spesifikasi teknis yang ada sehingga data pengukuran memenuhi kriteria yang diinginkan (telah dikalibrasi)

Peralatan yang harus dipersiapkan antara lain :

  1. Alat ukur GPS geodetik base – rover
  2. Alat Total Station
  3. Prisma stick pole
  4. Statif
  5. Controller GPS
  6. Kompas (Shunto), GPS Handheld
  7. Form kertas pencatatan pengukuran
  8. Meteran jalan
  9. HT (untuk komunikasi di lapangan)
  10. Kamera
  11. Perlengkapan safety lapangan (wearpack, sepatu proyek, helmet, serung tangan, kacamata)
  1. Persiapan teknik

Persiapan teknik, antara lain berupa :

  1. penyediaan peta kerja
  2. penyediaan deskripsi titik ikat planimetris dan ketinggian yang telah ada di lokasi atau di sekitar lokasi pemetaan
  3. pemeriksaan kondisi fisik serta pemeriksaan kebenaran koordinat planimetris dan ketinggian titik ikat yang akan digunakan
  4. penetapan titik ikat planimetris dan ketinggian yang akan digunakan
  5. orientasi lapangan
  6. perencanaan jalur pengukuran
  7. perencanaan letak pemasangan patok tetap
  8. penyediaan patok tetap dan patok sementara
  9. perencanaan sistem pemberian nomor patok tetap dan nomor patok sementara
  10. penyediaan alat ukur yang sesuai dengan ketelitian yang telah ditetapkan
  11. penyediaan alat hitung
  12. penyediaan formulir data ukur dan formulir data hitungan
  13. persiapan lain yang diperlukan
  1. Persiapan managerial

Persiapan manajerial, antara lain berupa :

  1. pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan, dan jadwal pelaksanaan keseluruhan kegiatan pengukuran
  2. pembuatan struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan, yang dilengkapi dengan status serta nama-nama personil pelaksana
  3. pemberian pengarahan dan pemahaman pada personil pelaksana
  4. penyusunan laporan pendahuluan
  5. hal-hal lain yang diperlukan

Lingkup Kerja Survey Topografi

  1. Pemasangan patok
  2. Patok sementara

–          Semua patok sementara yang digunakan dibuat dari kayu dengan ukuran tertentu

–          Setiap patok sementara dipasang masing-masing dengan letak dan jarak yang diperhitungkan terhadap kebutuhan pengukuran kerangka horizontal peta, kerangka vertikal peta, detail situasi, dan penampang melintang

–          Semua patok sementara yang dipasang dicat dengan warna, diberi paku di atasnya, serta diberi nomor secara urut, jelas, dan sistematis

  1. Patok tetap

–          Semua patok tetap utama yang digunakan dibuat dari beton bertulang dengan ukuran yang telah disepakati

–          Patok tetap utama dipasang berpasangan dua patok di sepanjang tepi setiap jarak 1 km

–          Letak pemasangan patok tetap utama dipilih pada kondisi tanah yang stabil, aman, dan tidak mengganggu atau terganggu oleh lalu lintas yang ada

–          Semua patok tetap utama diberi nama, dan nomor pemasangannya.

  1. Pengukuran Kerangka Horisontal Peta

Dari hasil perencanaan pada peta kerja akan didapatkan jumlah jalur poligon, jumlah loop poligon, jumlah BM yang dipasang, perkiraan jumlah jarak poligon, serta penetapan jumlah jalur poligon utama dan poligon cabang, sehingga pada dasarnya untuk pengukuran kerangka dasar horisontal terdapat dua jenis pekerjaan poligon yaitu :

  1. Pengukuran Poligon Utama
  2. Pengukuran Poligon Cabang
  1. Pengukuran Poligon Utama

Pengukuran poligon utama, digunakan sebagai kerangka acuan untuk mendapatkan kerangka dasar horizontal (X,Y,Z) yang mempunyai keandalan ukuran, dimana keandalan ukuran tersebut dinyatakan oleh ketelitian penutup sudut dan ketelitian linier jaraknya. Karena poligon utama merupakan titik dasar teknik maka diperlukan persyaratan tertentu pada pelaksanaan pengukurannya.

Pengukuran poligon utama dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

–          Pengukuran poligon utama ini menggunakan alat ukur theodolit yang mempunyai ketelitian pembacaan terkecilnya 1 (satu) detik

–          Untuk memperkecil salah penutup sudut, pengukuran panjang sisi polygon diusahakan mempunyai jarak yang relatif jauh (minimum 50 m)

–          Dihindari melakukan pengukuran sudut lancip (< 60o) yang dapat memperbesar kesalahan penutup sudut

–          Guna memperkecil kesalahan penempatan target prisma tinggi tripod/kaki tiga target depan akan menjadi tinggi tripod alat pada perpindahan alat kesisi polygon berikutnya

–          Pengukuran poligon dilakukan tertutup atau terikat sempurna

–          Toleransi salah penutup sudut maksimum adalah 10”n, dimana n adalah jumlah titik pengamatan/polygon (dimungkinkan melakukan kesalahan pengukuran sudut tidak lebih dari 10 detik dikali akar dari jumlah titik pengamatan/polygon)

–          Ketelitian jarak linier harus lebih kecil dari 1/10.000 (dimungkinkan melakukan kesalahan pengukuran jarak tidak lebih dari 1 meter untuk setiap jarak 10 km)

–          Jalur pengukuran poligon utama serta arah dan letak tiap sudut yang diukur harus dibuat sketsanya

–          Setiap lembar formulir data ukur poligon utama harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

  1. Pengukuran Poligon Cabang

Maksud dilakukan pengukuran poligon cabang adalah untuk pengikatan titik-titik detail ditengah-tengah areal pengukuran yang jauh dari jalur poligon utama hingga dengan adanya titik-titik poligon cabang akan memperbanyak cakupan titik detail yang ada di lapangan.

Pengukuran poligon cabang dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

–          Pengukuran sudut dan jarak menggunakan alat ukur yang sama dengan pengukuran poligon utama

–          Jalur pengukuran poligon cabang melalui semua patok, yaitu dimulai dari salah patok tetap utama kemudian berakhir di patok tetap utama yang lain

–          Poligon cabang dibuat pada setiap jarak ± 50 meter

–          Pengukuran poligon cabang menggunakan metode terikat sempurna, diikatkan pada titik kerangka dasar/poligon utama

–          Pengukuran beda tinggi untuk poligon cabang/cut lines dilakukan dengan cara trigonometris

–          Toleransi salah penutup sudut maksimum adalah 20”n, dimana n adalah jumlah titik pengamatan/poligon

–          Ketelitian jarak linier harus lebih kecil dari 1/5.000

–          Toleransi ketelitian beda tinggi adalah 40 mm D, (D = jumlah panjang jarak jalur pengukuran dalam kilometer), kecuali pada jalur dimana diletakkan posisi BM toleransinya 20 mm D

–          Jalur pengukuran poligon cabang serta arah dan letak tiap sudut yang diukur harus dibuat sketsanya

–          Sudut arah poligon cabang menggunakan azimut poligon utama

–          Setiap lembar formulir data ukur poligon cabang harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

  1. Pengukuran Kerangka Vertikal Peta

Kerangka vertikal peta diukur dengan metode waterpasing memanjang yaitu sebagai berikut :

–          Jalur pengukuran waterpasing harus melalui semua patok poligon

–          Alat ukur waterpas yang digunakan harus jenis automatic level

–          Setiap akan melakukan pengukuran harus terlebih dahulu dilakukan kalibrasi alat ukur waterpas

–          Pelaksanaan pengukuran waterpasing harus dilakukan secara pergi-pulang

–          Rambu ukur yang digunakan harus mempunyai interval skala yang benar

–          Pada pengukuran setiap slag, usahakan agar alat ukur waterpas selalu berdiri di tengah- tengah di antara kedua rambu ukur

–          Setiap pembacaan rambu ukur harus dilakukan pada ketiga benang, yaitu benang atas, benang tengah, dan benang bawah

–          Jalur pengukuran waterpasing dan arah pembacaan tiap slag dibuat sketsanya

–          Selisih antara jumlah beda tinggi hasil pengukuran pergi dengan jumlah beda tinggi hasil pengukuran pulang dalam tiap seksi harus 8 mm D, dengan pengertian bahwa D adalah panjang seksi dalam satuan km

–          Setiap lembar formulir data ukur waterpasing ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

  1. Pengukuran Situasi dan Detail Topografi

Pengukuran situasi dilakukan dengan metode grid, yaitu sebagai berikut :

–          Pengukuran situasi dilakukan dengan cara trigonometris dengan alat total station

–          Akurasi alat yang digunakan minimal 30”

–          Setiap akan melakukan pengukuran harus terlebih dahulu dilakukan kalibrasi

–          Prisma target yang digunakan harus memiliki interval tinggi yang benar

–          Pengukuran harus diikatkan pada titik-titik poligon utama dan poligon cabang

–          Pengukuran jalan dilakukan pada kedua sisinya dengan kerapatan maksimal 50 meter

–          Pengukuran sungai dilakukan pada tepi atas, tepi bawah dan as dengan kerapatan maksimal 50 meter

–          Jumlah detail unsur situasi yang diukur betul-betul representatif, oleh sebab itu kerapatan letak detail harus selalu dipertimbangkan terhadap bentuk unsur

–          Setiap lembar formulir data ukur detail situasi harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

  1. Pengukuran penampang melintang

Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan metode tachymetri yaitu sebagai berikut :

–          Jarak antarpenampang melintang yang diukur bergantung pada kegunaan gambar penampang melintang tersebut

–          Total station yang digunakan mempunyai ketelitian 30”

–          Setiap akan melakukan pengukuran terlebih dahulu dilakukan kalibrasi

–          Target prisma yang digunakan harus memiliki tinggi interval yang benar

–          Batas pengambilan detail di areal tepi kiri dan di areal tepi kanan tergantung pada kegunaan gambar penampang melintang tersebut

–          Jumlah dan kerapatan letak detail yang diukur harus dipertimbangkan pula terhadap skala gambar penampang melintang yang akan dibuat

–          Setiap detail penampang melintang yang diukur tidak boleh terbalik antara letak sebelah kiri dan kanan

–          Setiap lembar formulir data ukur penampang melintang harus ditulis nomor lembarnya, nama pekerjaan, nama pengukur, alat yang digunakan, merek dan nomor seri alat yang digunakan, tanggal dan tahun pengukuran, dan keadaan cuaca pada saat melakukan pengukuran

Pembuatan Peta

Pembuatan Peta adalah penggambaran titik-titik kerangka dasar pengukuran dan titik-titik detail yang dinyatakan dengan penyebaran patok, BM, titik-titik ketinggian dan obyek-obyek lainnya yang dianggap perlu dalam suatu areal pekerjaan. Penggambaran areal pekerjaan diproyeksikan pada bidang datar dengan skala 1 : 100, Interval kontur 0,5 meter, ukuran lembar peta A1.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses penggambaran peta antara lain :

  1. Judul peta project
  2. Peta lokasi project
  3. Arah utara peta
  4. Legenda
  5. Garis kontur dengan interval 0.5 meter (sesuai kebutuhan)
  6. Gambar situasi : jalan, bangunan, sungai, rawa, alur, dll.
  7. Bench Mark (BM)
  8. Garis dan angka grid dengan interval 50 meter
  9. Penampang memanjang (long section) dan penampang melintang (cross section)

Pelaporan Hasil Kerja Akhir

Pembuatan laporan dilakukan untuk memberikan gambaran hasil pelaksanaan pekerjaan yang telah dilakukan, sehingga dapat diketahui kondisi areal pekerjaan secara umum, informasi lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan survey dan pemetaan.

Data-data yang diserahkan setelah pekerjaan selesai dilaksanakan adalah :

  1. Satu berkas laporan tertulis tentang gambaran umum pelaksanaan pekerjaan
  2. Print out peta situasi pengukuran skala 1 : 100 dengan ukuran kertas A1
  3. Data asli hasil pengukuran atau koordinat topografi (Easting, Northing, Elevation)
  4. Photo dan deskripsi Bench Mark
  5. Photo dokumentasi kegiatan pengukuran topografi

Daftar Harga Survey Pengukuran Topografi

  1. Pengukuran Topografi

Kondisi Lahan Terbuka ( Tambak / Sawah / Lahan Kosong )

1 ha – 5 ha : 2.500.000 per ha

6 ha – 10 ha : 2.250.000 per ha

Diatas > 10 ha : 2.000.000 per ha

Kondisi Lahan Tertutup ( Banyak Berbagai Infrastruktur Buatan / Kondisi Rintisan Hutan )

1 ha – 5 ha : 4.000.000 per ha

6 ha – 10 ha : 3.750.000 per ha

Diatas > 10 ha : 3.500.000 per ha

Ket.

Pengukuran termasuk : Batas lahan / Luas Area, Jalan, Bangunan, Saluran, dll.

Include Drawing : Contour Surface, Site plan, Long section, Cross Section, Cut and Fill

Pelaporan : Softcopy & Hardcopy dalam kertas A0 dan A3

Sudah termasuk biaya transportasi dan akomodasi di lapangan ( Khusus* Lokasi Jakarta & Tangerang )

  1. Stake Out Titik Pancang & Kavling Tanah

Per titik 100 rb – Min. 20 titik pancang : 2.000.000

Ket.

Pengukuran termasuk : Pematokan titik yang telah di beri tanda

Sudah termasuk biaya transportasi dan akomodasi di lapangan ( Khusus* Lokasi Jakarta & Tangerang )

  1. Pengukuran Jalan

Per km – dengan lebar data jalan di ambil 10 mtr : 2.500.000

Per km – dengan lebar data jalan di ambil 10 – 20 mtr : 4.000.000

Per km – dengan lebar data jalan di ambil 20 – 30 mtr : 5.500.000

Ket.

Sepanjang jalan di ambil data per 50 mtr.

Pengukuran termasuk : Berbagai Infrastruktur buatan dan alami, Bangunan, Saluran, dll.

Include Drawing : Contour Surface, Site plan, Long section, Cross Section

Pelaporan : Softcopy & Hardcopy dalam kertas A0 dan A3

Sudah termasuk biaya transportasi dan akomodasi di lapangan ( Khusus* Lokasi Jakarta & Tangerang )

Metode Pembayaran Pekerjaan Pengukuran :

Termin 1 : 50 % ( DP Awal Pekerjaan )

Termin 2 : 50 % ( Pelaporan Akhir Pekerjaan Pengukuran )

Termin 1 : 40 % ( DP Awal Pekerjaan )

Termin 2 : 30 % ( Pekerjaan Lapangan Selesai )

Termin 3 : 30 % ( Pelaporan Akhir Pekerjaan Pengukuran )

Waktu Pengerjaan Pengukuran :

Pengukuran Topografi per 2 Ha. 1 hari waktu kerja

Pengukuran Jalan Per 2 Km. 1 hari waktu kerja

Stake out titik pancang dan kavling tanah per 20 titik 1 hari waktu kerja

Kami menggunakan perlengkapan seperti:

  • Total Station SOKIA
  • Theodolit
  • GPS R3
  • GPS Handheld
  • Kompas Clino dan Sunto
  • Laser Distance

Pengukuran Topografi untuk Keperluan Pemetaan dan Eksplorasi

Survey topografi mencakup berbagai kebutuhan di banyak bidang seperti pertambangan, konstruksi,pekerjaan sipil,perumahan,dan lainya. Pekerjaan survey geodesi sangat penting karena berhubungan dengan posisi,keakuratan,ketelitian suatu design baik itu perumahan,pertambangan,pembangunan konstruksi,perminyakan.Ada beberapa aplikasi untuk alat-alat ukur survey atau geodesi,diantaranya:

Bidang Pertambangan:

Biasanya perusahaan pertambang skala besar, katakanlah mereka punya KP atau luas daerahnya lebih dari 200 ribu hektar, rata-rata menggunakan data citra satelit untuk pengolahannya,disini yang digunakan ilmu geomatiknya, ini ada di Adaro & KPC. Disamping itu kebutuhan akan surveyor yang menguasai basic hidrografi sangatlah penting, untuk mengukur luas dan kedalaman air pada tambang yang jelas tidak bisa di ukur oleh total stasion. Tentunya dunia GPS tidak akan pernah terlepas dari surveyor tambang untuk pembuatan titik ikat yang berjarak jauh.

Rata-rata surveyor yang sudah punya pengalaman di lapangan, biasanya diarahkan untuk sebagai survey data processing untuk pengolahan selanjutkan ke perhitungan volume, perhitungan cadangan, desain jalan, dan malah banyak pula yang merangkap ke mine plan, untuk menghitung kapasitas alat untuk menghitung target bulanan atau ke design tambang untuk merencanakan bentuk tambang, kemana arah jalan, berapa jumlah bench yang di perlukan, sudut kemiringan design tambang agar tidak terjadi longsoran, dan menentukan berapa kapasitas tanah penutup (overburden & interburden).

Ada pun jenis-jenis pekerjaan lain yang dilakukan oleh surveyor pertambangan adalah :

  1. Juru ukur tambang bertanggung jawab untuk menunjuk atau menentukan arah dan batas-batas yang akan digali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
  2. Juru ukur harus segera melapor kepada petugas yang bertanggung jawab atas pekerjaan penggalian apabila mendekati (tidak kurang 50meter) dari tempat- tempat yang mempunyai potensi bahaya seperti kantong-kantong air, gas-gas berbahaya, semburan batu (rock burst), dan permukaan tanah atau penyangga- penyangga yang dapat membahayakan penggalian tersebut.
  3. Sedapat mungkin mengambil langkah-langkah untuk membuat ketepatan dari setiap peta-peta, gambar-gambar atas peta penampang yang belum dibuat olehnya atau yang dibawah pengawasannya.
  4. Harus melaporkan kepada Kepala Teknik Tambang, apabila ada keragu- raguan akan ketepatan dari setiap peta, gambar-gambar atau peta penampang dari tambang yang tidak dapat dibuat oleh atau di bawah pengawas juru ukur tambang, yang mungkin menimbulkan dampaak terhadap pekerjaan dan kegiatan tambang atau keselamatan orang-orang ditambang.
  5. Mengecek kapakah daerah tersebut sudah memiliki peta topografi. Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting.
  6. Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).
  7. Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).

Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.

1

3
79
845610111213