Proyek GPR/Georadar

Metode geofisika yang banyak digunakan untuk eksplorasi subsurface baik kedalaman 1m sampai 100m adalah GPR. Metode GPR sangat simple dalam pengambilan datanya karena hanya menyesuaikan energi yang dipancarkan dari transmitter dan pergerakan pengukuran(kecepatan operator atau kecepatan scanning(frekuensi tinggi). Namun tidak serta merta pengukuran GPR yang mudah akan mendapatkan hasil yang diinginkan karena selain kesinambungan anatara kecepatan operator dan gelombang yang dipancarkan juga perlu memahami parameter dan korelasinya dengan kondisi geologi, ini akan membantu kita untuk membayangkan apakah pengukuran kita setelah dilakukan pengolahan data akan sesuai dengan kondisi geologi bawah permukaan.

Sangat pentingnya mengerti geologi dan kondisinya akan sangat membantu kita dalam menginterpretasi hasil GPR yang sudah kita proses. Adanya struktur dan batas lapisan yang jelas akan sangat menyakinkan kita dalam menganggap data yang kita ambil dan proses sesuai prosedur dan optimal. Selain itu, penggunaan tahapan pengolahan data juga menentukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Contoh dibawah adalah hasil pengukuran GPR dan interpretasinya dengan menggunakan frekuensi 25 MHz yang diperuntukan untuk kedalaman 0-60m. Kondisi geologi dan struktur yang komplek akan berpengaruh dari hasil data itu sendiri, terutama kondisi ketebalan tanah,adanya batuan yang mempunyai nikai konduktivitas tinggi yang akan mempengaruhi penetrasinya(absorbsi).
Salah satu cara yang saya sering lakukan adalah dengan mengambil data statis di tiap titik yang kita anggap perlu, karena data statis tersebut lebih bagus hasilnya jika di proses karena tidak terpengaruh dengan perbedaan kecepatan operator dan pancaran gelombang yang dikirimkan sehingga fokus data titik tersebut. Hasil statis tersebut di korelasi dengan data yang continue untuk dijadikan ikatan(mirip dengan well tie). ketika ada data logging maka data statis bisa di kombinasinya dengan kecepatan yang berasal dari data logging tersebut. Contoh data statis dan data logging di bawah yang sudah di konversi ke kedalaman sehingga memudahkan untuk mendapatkan kedalaman yang pasti, karena konversi dari domain time ke depth dari data GPR pasti ada perbedaan sehingga perlunya kontrol kedalaman untuk mendapatkan kedalaman pastinya.
gpr vs geologi
mat and gpr
Ilustrasi penjalaran geolombang GPR dan hasil GPR (Sumber: UltraGPR)
Berikut pengalaman kami untuk survey GPR:
  1.  Eksplorasi Batubara
    • Karakteristik dalam metode GPR terlihat pada batas-batas lapisan sehingga lapisan satu dengan lainya terlihat dan kemenerusan lapisan juga menjadi jelas. Identifikasi batubara dengan menggunakan GPR bisa dilakukan dengan melihat pola-pola yang berhubungan dengan pola geologi seperti strike dip batubara, kemenerusan batubara, ketidakmenerusan batubara. Selain idenfitikasi dengan karakteristik geologi, penentuan batubara juga bisa dilakukan dengan menganlisis data GPR dengan analisis frekuensi dan spectrum data.
    • C10-1
    • Identifikasi Batubara dengan data GPR menggunakan analisis frekuensi
    • c7-1
    • Korelasi data Log dengan data GPR domain frekuensi
    • c6-1
    • Korelasi Data GPR domain waktu dengan data Log
  2. Eksplorasi mineral
    1. Biji besi
    2. Mangan
    3. Bauksit
    4. Pasir besi
    5. Laterit/Nikel
    6. Emas
  3. Investigasi dan kebutuhan geoteknik/Sipil
    1. Investigasi Utilitas(Kabel dan Pipa)u4u12u10u5-1u9-1
    2. Kedalaman Tiang Pancang
    3. Kekuatan dan ketebalan beton
    4. Bridge/Jembatan
  4. Geologi bawah permukaan
    1. Bedrock
    2. Kedalaman dan Dasar Sungai dan Danau
      • identifikasi batas bawa permukaan dengan medium air atau rawa terkadang terkendala dengan penetrasi kedalaman. Frekuensi gelombang elektromagnetik akan jauh berkurang terhadap kedalaman jika melalui medium air,apalagi dengan kandungan elektrolit tinggi. Dengan frekuensi 25MHz(Mala) kedalaman yang bisa ditembus berkisar antara 50-60m dengan kondisi normal, tetapi jika ada medium seperti air, endapan, timbunan, lempung maka penetrasi yang akan terbaca oleh data akan semakin berkurang. Dalam kondisi berair, penetrasi gelombang sering kali hanya setengah dari resolusi maksimal (30-40m) dan akan berkurang ketika kedalaman air atau ketebalan kondisi rawa lebih besar. Selain penetrasi yang jauh berkurang, pengukuranya sendiri relatif lebih susah dibandingkan dengan kondisi normal karena ketika parameter yang digunakan tidak sesuai maka data yang diinginkan susah untuk terlihat. Beberapa hal yang penting untuk melakukan pengukuran di daerah rawa atau kondisi berair yaitu melakukan beberapa test parameter statis sehingga didapatkan data yang optimal, selain itu pola pengiriman gelombangnya sendiri dari alat(trigger) harus selalu di sesuaikan dan dicocokan dengan kecepatan jalan pengukuran sehingga jika polanya sudah pas maka lapisan yang diinginkan bisa terlihat dengan baik.ad2-1ad3-1ad4-1
    3. Endapan dan Sedimentasi
    4. Zona Longsor
    5. Eksplorasi Batu Gamping
      • Metode GPR untuk eksplorasi batu gamping memang jarang digunakan tetapi ada beberapa tipe batu gamping yang sangat bagus jika menggunakan metode ini yaitu batas antar lapisan baik batas antara batu gamping dengan lapisan atasnya ataupun batas batu gamping dengan lapisan dibawahnya. Selain lebih jelas menentukan batas lapisan, GPR juga dengan sistem grid akan membantu pola kemenerusan lapisan atau batugamping secara lateral jika terdapat rongga atau ketidakselarasan lapisan. Pola ini yang bisa memprediksi lapisan menererus atau tidak. Berbeda dengan metode resistiviity, dalam 1 objek penampang 2-D akan terlihat berbeda warnanya jika terdapat ronga-ronga dalam batuan gamping tersebut karena kandungan air dan fluida lainya akan mempengaruhi pola resistansinya(warna), kecuali pengukuran dilakukan dengan cara sounding(1-D) makan batas lapisan akan terlihat lebih jelas tetapi tidak bisa mengkorekasi kemenerusan yang hilang(ketidak selarasan).
      • Di dalam Metode GPR, pengukuran bisa dilakukan dengan cara 1-D, 2-D ataupun 3-D. 1-D dilakukan untuk melakukan kalibrasi stratigrafi secara vertikal pada suatu samping batuan atau outcrop yang diepruntukan mengontrol lintasan 2-D. Pengukuran 2-D dilakukan untuk memperoleh kemenerusan suatu lapisan secara vertial sepanjang lapisan yang diukur dan pengukuran 1-D tadi dikorelasikan dengan data 2-D untuk memperoleh lapisan secara vertikal dan lateral. Pengukuran 3-D dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara 3-D dan membantu pola kemenerusan secara tiga dimensi.bedrock1bedrock2
  5. Arkeologi

 

Mail: roni12404027@gmail.com

Phone: 082114266358

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s