Penentuan Lapisan dengan Metode GPR IDS 40MHz

Kontak Kami:

Email: roni12404027@gmail.com

Phone: 082114266358

Identifikasi Rembesan Air Laut atau Abrasi di Area Dekat Laut dengan Metode Geolistrik

Dalam metode geolistrik, nilai resistivitas batuan yang mengandung air atau porositasnya tinggi akan terlihat jelas dibandingkan dengan batuan yang relatif kompak. porositas suatu batuan akan terisi oleh fluida yang mengisi kekosongan tersebut baik air atau cairan lain yang ada di bawah permukaan. Area dekat laut akan memungkinkan batuan yang berporotas tinggi ini akan menyerap air yang dari air laut dan mengendap di dalamnya dan karakternya akan berbeda dengan air yang bukan air laut (air tawar).

Dalam kaitanya dengan bangunan, air laut akan mengakibatkan korosi atau menjadikan bangunan tidak tahan lama sehingga perlu dilakukan penanganan khusus untuk menghambat korosinya. Identifikasi air laut atau abrasi dengan metode geolistrik akan memperlihatkan nilai resistivitas yang cukup kecil yang biasanya di bawah 10 ohm.m atau bahkan sampai nol koma ohm.m.

Model di bawah merupakan penampang 2-D data geolistrik yang memperlihatkan sebaran nilai resistivitas. Warna biru merupakan kandungan air laut yang terdapat di bawah permukaan dengan karakter yang khas yaitu ada jalur dari permukaan dan di salurkan ke tempat lain dan di endapkan di bawah permukaan.

Kontak Kami:

Phone: +62-82114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Investigasi Cavity atau Rongga dan Struktur pada Batuan Gamping dengan Metode GPR/Georadar

Metode geofisika yang digunakan untuk identifikasi rongga, struktur, atau yang lainya yang berkaitan dengan kondisi geologi batuan gamping yaitu geolistrik, georadar, seismik dan lainya tetapi kondisi di lapangan menentukan metode yang pas dan efektif untuk target yang akan di capai. Kondisi batuan gamping biasanya kering, mempunyai lapisan soil yang sangat tipis apalagi di dekat laut, sehingga ketika menggunakan metode geolistrik atau seismik akan menghadapi kendala di penancapan elektroda atau geophoneya sehingga perekaman dan injeksi arus akan tidak maksimal. Dengan kondisi seperti itu maka identifikasi struktur, rongga atau cavity di batuan gamping akan sangat relevan dan efektif menggunakan metode Georadar dengan memanfaatkan lintasan yang sudah dibersihkan sehingga alat melewati lintasan tersebut dan data bawah permukaan akan didapatkan.

Kontak Kami:

Phone: +62-82114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Eksplorasi di Daerah Rawa dan Ber air

Kontak Kami:

Phone: +62-82114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Memetakan Pipa atau Kabel Existing dengan Metode GPR

Metode GPR atau Ground Penetrating Radar merupakan metode geofisika yang secara teknis tidak secara langsung menyentuh objek atau dengan kata lain hanya mengukur di permukaan dan bisa di dapatkan respon bawah permukaan seperti indikasi pipa, kabel, boulder, concrete, lapisan dan lainya.

Identifikasi utilitas atau objek silinder bawah permukaan dengan kedalaman yang dangkal (antara 0-5m) sangat efektif menggunakan alat ini karena secara real time bisa di lihat indikasinya. Beragam frekuensi dalam alat GPR yang berbeda peruntukanya, untuk kedalaman yang dangkal bisa menggunakan frekuensi 100MHz sampai 600MHz. Untuk kedalaman yang lebih dari itu bisa menggunakan frekuensi <100MHz.

Eksplorasi Batubara dengan metode Georadar atau GPR

Data georadar diambil dengan menggunakan ProEX dengan frekuensi 25 MHz dan juga bisa menggunakan UltraGPR dengan multi frekuensi dengan kedalaman 60-120m. Teknis pengambilan data Georadar dapat dilakukan dengan time based atau keyboard based. Untuk lintasan yang bersih, misalkan tidak ada variasi topografi yang signifikan dapat dilakukan dengan cara time based. Sementara pada daerah dengan topografi yang signifikan seperti sebaiknya dilakukan dengan keyboard based. Data Georadar yang telah diambil dapat dilihat langsung hasilnya secara kasar, dan dapat ditentukan apakah perlu dilakukan pengukuran ulang atau tidak. Pengnambilan data dilakukan dengan 2 cara yaitu secara menerusan dan statis. Secara menerus mengukur sepanjang lintasan yang sudah disiapkan sedangkan pengukuran statis dilakukan di suatu titik tertentu untuk mengontrol data secara vertikal.

Pengolahan data dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pengolahan data di lapangan( field processing) sedangkan tahap kedua tahap final(advance processing). Tahap pengoalahan data pertama bisa dilakukan secara bertahap setelah data pengukuran sudah selesai diambil untuk mengetahui data sudah layak dilakukan proses lanjut atau harus diulang, sedangkan tahap kedua yaitu tahap interpretasi dalam bawah permukaan berupa interpretasi lapisan, batas lapisan,kemenerusan secara lateral dan vertikal dan juga gambaran sebaran secara 3-D.Dalam identifikasi batubara interpretasi yang penting dilakukan adalah memisahkan seam-seam batubara yang relatif banyak dan kalaupun tidak terlalu banyak akan mempermudah interpretasi. Pola diping batubara dan perlapisan batuan akan menjadi konsen penting dalam melihat kemenerusan batubara apakah ada struktur yang menyebabkan tidak menerus atau lainya dalam hal ini dibutuhkan data tambahan seperti data diping batubara, data log atau data geologi lain untuk menunjang interpretasi.

Investigasi Sumber Mata Air dengan Metode Geolistrik GeoResist

metode geolistrik membantu menginvestigasi adanya sumber mata air, air permukaan ataupun akuifer yang ketiganya mempunyai ciri khas baik dalam karakter strukturnya atau lokasi keberadaanya.

Alat yang digunakan menggunakan alat single channel dengan dibuatkan switchbox sehingga bisa dilakukan pengukuran 2-D. Injeksi arus listriknya dilakukan secara manual tetapi akurasinya tidak jauh berbeda jika alatnya rutin di kalibrasi dengan alat-alat yang lebih bagus sensitifitasnya. Sebelum dilakukan pengukuran dilakukan terlebih dahulu survey tinjau untuk melihat struktur, pola sedimentasi dan topografinya sehingga kita bisa mengklasifikasi model air apa yang terkandung di bawah permukaan.

Kontak Kami:

CP: Roni

Phone: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com