Metode Geofisika yang Paling Efektif untuk Identifikasi Rawa

Metode geofisika yang paling efektif untuk menentukan perlapisan bawah permukaan baik di topografi yang curam dan rawa bisa menggunakan metode GPR dengan frekuensi rendah, tidak semua tipe GPR bisa dipakai dalam medan tersebut karena frekuensi tinggi hanya bisa di sesuai untuk area perkotaan.

GPR yang digunakan adalah frekuensi 25MHz yang support terhadap medan lapangan seperti Mala 25Mhz RTA.

DSCF3466DSCF3470Picture1

Iklan

Metode GPR/Georadar untuk Bendungan di Daerah Jawa Tengah

Metode GPR merupakan metode dengan memanfaatkan sumber gelombang elektromagnetik yang di transmisikan dari trasmitter(antena) ke receiver. Jarak antara transmitter dan receiver berkorelasi dengan kedalaman, semakin jauh jarak antar antena maka semakin dalam, sebaliknya semakin pendek jarak antena maka semakin dangkal.

IMG_20180629_150602IMG_20180629_151700IMG_20180629_152507

Metode GPR membantu menginvestigasi adanya rembesan atau terduganya retakan dalam tubuh bendungan. Untuk kebutuhan pendeteksian yang di atas 10m maka digunakan tipe GPR dengan frekuensi 30MHz dengan estimasi kedalaman sampai 40-60m.

Kedalaman yang dicapai GPR hanya bergantung pada jarak antar trasmitter dan receiver tidak bergantung pada spasi lintasan atau tembakan. Kedalaman yang dicapai akan seluruhnya terlihat tidak seperti Geolistrik yang tergantung pada spasi elektroda dan panjang bentanganya. Pemakaian Geolistrik dimaksudkan untuk mendeteksi adanya fluida dalam tubuh bendungan atau zona lemah yang mempunya banyak pori atau lapuk sehingga dalam GPR mendetailkan adanya rongga-rongga atau zona lemah tersebut apakah memang berongga atau hanya zona lemah yang berupa sedimen lapuk.

Rental Alat-alat Geofisika

Berikut alat-alat yang di rentalkan di Seisxplore Geosurvey:

  • Alat Ground Penetrating Radar/GPR/Georadar
    • Merk Mala RTA 25MHz
      • IMG-20160201-WA0002
    • Merk GSSI 200 dan 400 MHz
      • u3
    • Merk IDS 200 dan 600 MHz
      • DSCN1199
    • Merk Opera Duo 250 dan 650 MHz
      • OPERA DUO 2.jpg
  • Ground Magnetik
    • Geometric G-856
      • mag1-a
    • PMG-1
    • GSM-19T
      • 20171215_133609
  • Seismik
    • Seismik Refleksi dan Refraksi 24 dan 48 Channel dari Geometric
    • Downhole Seismic OYO kedalaman sampai 30m
    • Seismik SBP single dan Multibeam
  • Gravity
    • Scientrex
    • Lacoste & Rosberg
  • Geolistrik dan IP
    • Ares 1 dan 2 (48,72,96 channel) spasi 5, 10, 15 dan 20m.
    • Supersting R8 (28 dan 56 channel), spasi 10m dan 25m.
    • SField/Geores Multichannel (48 channel) spasi 5 dan 10m.
    • Naniura single dan semi multichannel (sounding dan Semi Multichannel 41 channel)

Ares II untuk Identifikasi Batuan Andesit

Ares II hampir sama dengan Ares I tetapi mengalami perubahan dalam menu dan pembacaan channel atau datum dalam sekali injeksi. Dalam Ares I sering kali pengukuran menunggu waktu yang cukup lama dengan estimasi hampir 2jam lebih tetapi dengan ares II bisa lebih cepat bahkan 5kali lebih cepat di bandingkan ares I. Ares II memungkinkan membaca channel dalam pengukuran sampai 10 channel, jika ares I cuma 1 channel. Dibandingkan dengan supersting yang hanya 8channel tetapi secara kualitas masih bagus supersting (pembacaan IPnya).

Kemudahan Ares yaitu hampir semua komponen pelengkap bisa di modifikasi dengan bahan-bahan komponen yang ada di Indonesia sedangakn Supersting sangat sulit dan bahkan tidak bisa di ganti dengan spare part dalam negri.

Selain kemudahan dalam spare part, kemudahan juga dalam modifikasi spasi elektroda dengan menggunakan kabel yang ada, misal spasi 5, 10, 15 dan seterusnya tergantung kebutuhan karena bawaan asli dari Ares sendiri hanya menyediakan spasi 5m.

Selain spasi, Ares bisa juga dimodifikasi dalam hal saluran channel atau switchbox seperti 24, 48,72, dan 96 channel sehingga penggunaan di lapangan sangat fleksible dan bisa di sesuaikan dengan kebutuhan yang ada tanpa harus membeli perangkat baru dari pabrikan.

20180118_131638.jpgIMG-20180121-WA0024IMG-20180121-WA0026

 

Hubungi Kami:

Tlp: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com

Pemodelan Bawah Permukaan data GPR untuk Rawa


Batubara?Biasanya orang selalu menghubung-hubungkan dengan pengeboran dan site visit atau survey tinjau untuk mengetahui keberadaan dan kemenerusan benda ini, tetapi sangat sedikit yang memanfaatkan metode tidak langsung yang dalam proses surveynya bisa menghemat waktu, biaya dan lainya yang tentu saja si Bos besar akan senang jika kemudahan dalam eksplorasi batubara dapat lebih mudah, murah dan efisien.

Beberapa postingan sebelumnya sudah menjelaskan metode yang tidak langsung ini (GPR) untuk mengidentifikasi batubara, bukan metode lain tidak bagus tapi dilihat dari efisiensi dan kemampuan alat dan medan yang tidak mudah yang sebut saja rawa yang bergambut dan berilalang tinggi. Dalam kasus lain yang mempunya lokasi yang relatif mudah orang-orang geologi (biasanya yang menjadi pengambil keputusan dalam survey lapangan di suatu perusahaan) mengenalkan metode Geolistrik yang notabene mereka kenal (sebagian orang tambang juga) untuk mengidentifikasi batubara. Bukan tanpa alasan tetapi mereka lebih banyak mengenal geolistrik dari pada metode lain karena dari sejak kuliah mereka sudah mengenal dan melakukan praktikum di kampusnya dengan metode geolistrik.

Metode GPR dengan berbagai merk dan tipe frekuensi yang dipakai membuat orang sulit untuk memilih karena setiap tujuan lapangan harus tahu kebutuhanya buat apa, kedalamanya berapa, objek yang di cari apa dan lainya, dan kebanyakan orang terutama geologi dan geofisika akan menempatkan metode ini untuk kebutuhan sipil atau objek-objek yang ada di sekitar beton, pindasi, jalan rawa dan lainya.

Memang betul metode GPR banyak digunakan untuk identifikasi retakan beton, amblasan, utulitas bawah permukaan berupa kabel, pipa dan lainya tetapi GPR juga mempunya frekuensi rendah yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi area yang dalam yang berupa lapisan, yang sering digunakan adalah frekuensi 30MHz dengan bentangan kabel seperti ular dan ditarik sehingga gelombang yang dikeluarkan dari transmitter akan ditangkap oleh receiver dan menampilkan respon-respon trace (amplitudo) yang jika digabungkan akan membentuk suatu penampang yang isinya berupa lapisan-lapisan bawah permukaan.

kedalaman rawa section

Hasil GPR untuk kedalaman rawa

kedalaman rawa tanpa koreksi

Pemodelan Rawa dari Data GPR

kedalaman rawa koreksi

Pemodelan Rawa dikoreksi Topo

Idenfitikasi Pasir Lepas dengan Metode Georadar

Metode GPR sangat membantu pendeteksian bidang sipil terutama untuk amblasan dan retakan yang mempunyai resolusi tinggi. Dengan penembakan gelombang per 1 second maka setiap langkah operator akan mendapatkan respon trace yang jika di gabungkan seluruh data maka jarak antar tracenya bisa 20cm bandingkan dengan metode lain yang menggunakan spasi lebih dari 5m(paling rapat biasanya). Tetapi ada kasus lain yang memungkinkan menggunakan metode lain sperti geolistrik.

Metode GPR akan sangat cocok jika objek yang dicari berbentuk lapisan atau sedimentasi seperti pasir, gamping, batubara dan lainya.

Untuk identifikasi rongga, data GPR harus di lakukan analisis frekuensi sehingga kelemahan amplitude, dan frekuensi bisa dideteksi yang biasanya berkorelasi dengan zona lemah seperti rembesan dan zona longsor.

model 1model 2model 3model 4

 

Hubungi Kami:

Tlp: 082114266358

Email: roni12404027@gmail.com